Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam Minggu,
seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman baik
sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami kecuali
berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak apel?” tanya saya dalam nada bercanda. Ia menyahut dengan santai, “Supaya teman-teman se-kos tidak mengira aku jomblo.
Walau memang kenyataannya begitu, tapi kan malu kalau ketahuan belum
punya pacar. Jadi jangan diam di rumah kos kalau malam Minggu tiba, ke
rumah siapa pun jadi deh, biar nggak kelihatan jomblo.” Walaupun merasa maklum, sebenarnya saya heran mendengar jawabannya itu.
Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam
Minggu, seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman
baik sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami
kecuali berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak
Dua puluh tahun kemudian, dan pastinya dua puluh tahun sebelum hari
itu, rasanya motivasi sebagian anak muda dalam berpacaran belum banyak
berubah. Ketika baru-baru ini saya berbincang dengan keponakan saya yang
sudah SMA, ia bercerita tentang motivasi teman-temannya yang sudah
mempunyai pacar. Pacaran meningkatkan status sosial, katanya tampak
lebih keren dan gaul bila sudah punya pacar. Walaupun kebutuhan akan
pengakuan dan status pergaulan adalah bagian dari gejolak masa remaja,
tetaplah sangat penting bagi kaum muda untuk mempunyai alasan dan sikap
yang tepat dalam berpacaran.
Kaum muda Katolik adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menjadi kudus dalam segala hal. Sebagaimana dinyatakanNya dalam 1
Petrus 1:14-16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti
hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah
kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang
kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu,
sebab Aku kudus” . Usia muda tidak harus tidak matang dalam iman,
justru sedari muda kita belajar apa yang benar dan baik yang akan
mengarahkan kita menjadi manusia dewasa yang seutuhnya, dalam kepenuhan
kasih dan iman kepada Tuhan. Kita baca hal itu dalam 2 Tim 2:22,
“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan,
kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan
dengan hati yang murni.”
Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita dalam semua aspek hidup
kita, termasuk dalam hal pergaulan. Di dalam Kitab Suci, Dia mengajarkan
sikap-sikap yang baik dan terpuji menyangkut relasi kita dengan lawan
jenis. Tuhan menghendaki demikian, sebenarnya pertama-tama demi
kebahagiaan kita, karena Ia mengenal kita dengan sempurna sejak semula,
dan karena Ia sangat mengasihi kita.
Apakah pacaran itu?
Pacaran itu indah, jatuh cinta itu selangit, berjuta rasanya, kata
syair lagu. Ketika kita masih duduk di awal bangku sekolah dasar,
bergandengan tangan dengan teman yang berlainan jenis tidak menimbulkan
perasaan apa-apa kecuali rasa gembira sebagai teman bermain. Namun
menginjak usia pra-remaja, di mana perkembangan fungsi tubuh dan
hormonal mulai menjadi dominan, kebersamaan dengan teman lawan jenis
menumbuhkan perasaan suka yang berbeda. Ketika dua insan berlainan jenis
selalu ingin menghabiskan waktu bersama, merasa aman dan nyaman satu
sama lain, berkegiatan bersama, baik lewat pertemuan secara fisik maupun
lewat berbagai sarana alat komunikasi, dengan diikuti ketertarikan
secara seksual dan romantisme, maka relasi di antara keduanya disebut
berpacaran. Tuhan memang menciptakan manusia untuk saling mengasihi.
Dalam pacaran, manusia mengenal bentuk saling mengasihi itu secara
khusus dalam perasaan cinta kepada lawan jenis, dalam artian, ingin
memberi, melindungi, dan mengasihi lawan jenis yang dicintai. Relasi ini
bersifat eksklusif, artinya hanya melibatkan perasaan kedua orang yang
terlibat di dalamnya. Dalam hubungan pacaran yang baik, harus ada
unsur-unsur yang menjaga kelanggengannya dan memastikan tujuannya
tercapai, di antaranya secara umum adalah kesetiaan, kejujuran, saling
menghormati dan menghargai, tanggungjawab, dan komitmen.
Mengapa kita pacaran
Jika hanya mengikuti dorongan alami dari fungsi-fungsi hormonal
tubuh, bisa-bisa manusia berpacaran dengan siapa saja yang ia suka dan
kapan pun ia mau. Tetapi tentu tidak dapat demikian, karena manusia
adalah mahluk berakal budi, ciptaan tertinggi yang dikaruniai hikmat
untuk mengikuti norma-norma kebaikan dari hati nuraninya. Manusia
diciptakan sesuai dengan gambaran Penciptanya, sehingga ia disebut
sebagai citra Allah. Ia juga dipanggil untuk berpasangan dan beranak
cucu melalui sebuah relasi yang disebut perkawinan kudus yang tak
terceraikan.
Karena manusia mempunyai martabat paling tinggi sedemikian, dan
dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola alam ciptaan dengan akal budinya,
maka setiap tindak tanduknya harus didasari oleh tujuan yang mulia dan
alasan yang menjunjung tinggi martabat itu. Tidak terkecuali dalam
berpacaran, yang merupakan langkah awal sebelum jenjang perkawinan.
Motivasi yang benar dalam berpacaran mengarahkan muda mudi untuk
berpacaran dengan sehat dan mencapai tujuannya yang benar dalam
memuliakan martabatnya sebagai manusia sesuai dengan tugas dan panggilan
Tuhan baginya. Sebaliknya, berpacaran sekedar untuk status, demi ego
pribadi, demi memuaskan dorongan seksual semata , atau untuk sekedar
bersenang-senang saja, justru berpotensi menimbulkan kesedihan, misalnya
luka dalam hati, perbuatan dosa dan rasa bersalah, rusaknya hubungan
baik, bahkan kehamilan di luar nikah, atau pernikahan dini yang terpaksa
dijalani karena kehamilan di luar pernikahan itu dan bukan didasari
oleh cinta yang sejati dengan pertimbangan kecocokan yang matang.
Ujungnya adalah masalah, dan bukannya kebahagiaan. Bisa-bisa pacaran
tidak lagi berjuta rasanya, tetapi berjuta masalahnya.
Pacaran yang sehat didasari oleh kasih yang tulus dan kebutuhan untuk
menemukan pasangan hidup yang tepat, di mana kedua insan berusaha
saling mengenal pribadi satu sama lain, mengembangkan cinta kasih
sejati, untuk kemudian menikah membentuk keluarga yang dikuduskan dalam
sakramen Gereja-Nya, Sakramen Perkawinan. Di dalamnya, Tuhan menghendaki
pria dan wanita berketurunan dan membentuk keluarga yang saling
mencintai, menghormati, dan melayani dalam kasih dan kesetiaan yang
tulus hingga akhir hayat. Semangat kasih dan hormat kepada Tuhan
mendasari semua bentuk ungkapan kasih di dalamnya. Kasih yang Tuhan
maksudkan adalah kasih yang dituliskan St Paulus dalam 1 Kor 13: 4-7, yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, dan masih banyak lagi.
Keluarga adalah pilar paling dasar yang menopang sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat. Maka persiapan membentuk keluarga yang diawali
dengan proses pacaran mempunyai makna dan tujuan yang sangat penting dan
mulia, dan oleh karenanya harus disikapi dan dijalani dengan bijaksana,
dengan senantiasa menerapkan apa yang baik yang dikehendaki Tuhan di
dalam sebuah relasi berpacaran antara pria dan wanita. Itulah sebabnya,
menjalani masa pacaran yang sehat dan sesuai dengan ajaran kasih Tuhan
juga akan memberikan bekal berharga bagi kehidupan perkawinan yang
bahagia dan langgeng.
Pacaran yang baik yang bagaimana?
Karena tujuannya adalah menemukan pasangan hidup yang tepat sebelum
memasuki jenjang perkawinan dan membentuk keluarga yang bahagia, pacaran
yang sehat melibatkan sebuah proses. Proses untuk saling mengenal dan
mengerti satu sama lain, mengembangkan sikap saling menerima kelemahan
dan kelebihan satu sama lain, latihan mengendalikan diri dan bertanggung
jawab, latihan untuk berbagi, untuk mendahulukan kepentingan pihak lain
dalam semangat saling melayani, latihan menikmati kebersamaan dan
berbagi sukacita bersama. Dan tak kalah penting dari semuanya, latihan
menjaga kemurnian. Karena “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. “(1 Tes 4 :7)
Proses sedemikian itu memerlukan kematangan dan pada gilirannya juga
akan mengembangkan kematangan dari dua insan yang berpacaran. Menjadi
makin matang, bertangunggjawab, dan lebih tidak mementingkan diri
sendiri adalah beberapa indikator yang baik dari sebuah pacaran yang
sehat. Aspek-aspek yang dipelajari dalam sebuah proses saling mengenal
itu misalnya seperti di bawah ini:
1. Belajar untuk mencintai
Dalam berpacaran yang baik, cinta yang menerima (eros) dikembangkan
sedikit demi sedikit menjadi cinta yang memberi, dan tidak bersyarat
(agape).[1]
Cinta itu memberi. Sejak kecil, kita telah menerima cinta dan mengalami
dicintai oleh orangtua dan saudara-saudara dalam keluarga. Semakin kita
tumbuh besar, kita pun merespon cinta yang kita terima itu dengan
tindakan dan perasaan mencintai yang sama. Semua itu sebenarnya adalah
cinta Tuhan yang membara kepada kita. Namun cinta yang diajarkanNya
adalah memberi tanpa syarat, yaitu dengan tulus demi kebaikan dan
kepentingan pihak yang dicintai. Cinta yang sedemikian ini tidak
diberikan hanya kalau pihak yang diberi melakukan hal-hal yang sesuai
dengan yang kita mau, tetapi memberi karena cinta itu sendiri
menggerakkan kita memberi karena mengasihi, menerima dan menghormati
pacar kita apa adanya.
2. Belajar membedakan hak dan kewajiban
Karena sudah menjadi kekasih dan merasa saling memiliki, bukan berarti
kita dapat berbuat apa saja dengan pacar kita dan menuntut pacar kita
melakukan apa pun yang kita inginkan. Kadang-kadang atas nama cinta,
kita terjebak dalam relasi yang saling menuntut dan bukannya saling
memberi. Pemuda dan pemudi wajib untuk saling melindungi, selain secara
fisik dan mental, juga terutama dalam hal menjaga kemurnian satu sama
lain. Jika pemuda meminta pacarnya melakukan hubungan badan, itu bukan
dalam rangka menuntut haknya, justru melanggar kewajibannya untuk
menjaga kemurnian pacarnya. Jika pemudi memanfaatkan pacarnya untuk
kesenangannya sendiri misalnya minta diantar ke manapun tanpa ingat
waktu dan kesibukan sang pacar, minta dibelikan makanan atau benda yang
mahal, maka semua itu bukan haknya untuk dipenuhi. Hak yang sehat untuk
dipenuhi misalnya adalah hak untuk berdiskusi mengenai rencana masa
depan (ingatlah bahwa perkawinan Katolik adalah tak terceraikan,
perkawinan adalah untuk selamanya, sehingga sangat penting selama
masa-masa belajar berkomitmen di masa pacaran, sepasang kekasih
mengeksplor seluas-luasnya ketrampilan untuk saling memahami dan
menerima satu sama lain, saling mengungkapkan harapan dan kebutuhan, di
dalam konteks perencanaan masa depan berdua), kemudian hak untuk tetap
saling mempunyai kebebasan dan waktu-waktu sendiri bersama keluarga atau
teman baik, hak untuk tetap menjadi diri sendiri, hak untuk tetap
mempunyai hobi masing-masing, dan hak untuk mempunyai waktu khusus bagi
Tuhan. Hal semacam ini menjadikan pacaran mendewasakan kita, mari
merenungkan lebih lanjut tentang hal ini, dalam 2 Pet 1 : 5-7,
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk
menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri
ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih
akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan
semua orang.”
3. Belajar menjadi realistis
Walaupun sedang dalam suasana asmara dan romantisme, pasangan yang
berpacaran tetap tidak boleh melupakan realitas kehidupan, yang tidak
selalu segalanya manis, romantis dan berbunga-bunga setiap waktu. Maka
waktu-waktu berdua hendaknya jangan hanya dihabiskan dengan kegiatan
yang sifatnya hanya bersenang-senang seperti rekreasi, makan di
restoran, nonton bioskop, berjalan-jalan di pertokoan, atau berbelanja
berdua saja. Sesekali luangkan waktu mengunjungi saudara atau teman yang
sedang mengalami kesusahan atau sakit, memberikan perhatian kepada
orang-orang yang kesepian atau sudah lanjut usia, dan beribadah bersama.
Maka sangatlah baik jika pasangan adalah pemuda pemudi yang seiman
dalam Kristus, karena kegiatan merayakan Misa berdua dan melakukan
pelayanan kasih bersama teman-teman OMK menjadi lebih dimungkinkan.
Apa yang dikehendaki Tuhan dalam pacaran yang sehat
Hal kemurnian baik dalam kata-kata, pikiran, dan terutama tindakan,
adalah hal yang sangat penting dalam berpacaran. Kurangnya rasa hormat,
kasih dan takut kepada Tuhan serta kurangnya kesadaran untuk
bertanggungjawab terhadap masa depan berdua rentan membawa muda mudi
dalam dosa percabulan karena nafsu seksual yang tidak dikendalikan.
Dalam 1 Tes 4 :3 kita membaca, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan”. Setiap relasi dan tindakan seksual yang dilakukan di luar hubungan perkawinan yang sah, adalah tindakan percabulan.
Dunia anak muda tidak terpisahkan dengan dunia cinta dan cerita
romantisme masa muda, walau kisah cinta akan selalu dinikmati oleh semua
kalangan dan usia. Percintaan dua anak manusia tidak habis-habisnya
menjadi inspirasi dalam dunia seni, sastra, musik, hingga film.
Sayangnya, tidak banyak film dan bacaan yang beredar di kalangan remaja,
yang memberikan contoh yang sejalan dengan semangat kasih yang murni
dalam berpacaran, sebagaimana dikehendaki Tuhan. Nilai-nilai duniawi
yang laku untuk dijual memang nilai yang mengumbar kesenangan dan hawa
nafsu, kepuasan diri dan kegembiraan sesaat. Jika kaum muda Katolik
tidak dibekali dengan pemahaman akan nilai-nilai luhur dalam hubungan
kasih dengan lawan jenis, maka kekosongan itu segera diisi oleh
membanjirnya tawaran nilai dunia hiburan yang dekat dengan keseharian
anak muda. Perasaan mengasihi yang tulus dan bertanggungjawab
disempitkan dalam sekedar pernyataan seksual sebagai bentuk ungkapan
cinta. Rambu-rambu yang penting untuk diajarkan di dalam berpacaran
menjadi asing bagi kebanyakan anak muda. Berciuman, saling meraba,
hingga akhirnya melakukan hubungan selayaknya suami istri menjadi
kecenderungan yang mengaburkan nilai berpacaran sejati yang seharusnya
dikembangkan. Alih-alih saling mengenal, belajar bertanggungjawab,
belajar memberikan komitmen dan kesetiaan, belajar saling berkorban, dan
berlatih mengendalikan diri, malahan banyak remaja justru jatuh dalam
dosa percabulan. Padahal rentetan dosa percabulan itu mengakibatkan
kerumitan dan penderitaan, misalnya tersiksa oleh perasaan bersalah,
timbulnya sifat posesif dan egoisme, muncul perilaku kecanduan seks,
terjadinya kehamilan di luar perkawinan, timbulnya penyakit kelamin dan
penyakit alat reproduksi yang bisa berakibat fatal, hingga aborsi. Di
sini kita melihat dengan jelas salah satu alasan kasih dan keselamatan
di balik mengapa Tuhan memberikan ajaran, perintah, dan larangan di
dalam relasi kasih antara dua anak manusia dalam berpacaran, yaitu dalam
1 Kor 6 :15, 18, “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota
Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada
percabulan? Sekali-kali tidak! Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap
dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang
yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.”
Menurut survey yang dilakukan Survei Komisi Perlindungan Anak pada
2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia, ditemukan
93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan
badan, dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi.[2]
Kenyataan ini sangat memprihatinkan. Pihak orangtua, gereja, dan
sekolah adalah pihak-pihak yang selayaknya setia memberikan pendidikan
seks yang baik kepada orang muda secara rutin dan berkesinambungan.
Kebutuhan ini mendesak dan memerlukan tindak lanjut yang konkrit. Tuhan
meminta dengan jelas hal ini dalam Ams 22:6, “Didiklah orang muda
menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan
menyimpang dari pada jalan itu.”
Pasangan yang longgar dalam pengekangan diri terhadap godaan
berhubungan seksual di masa pacaran, jika akhirnya berhasil memasuki
bahtera rumah tangga, umumnya menjadi lebih rentan terhadap godaan
perselingkuhan dan hubungan seksual di luar perkawinan. Bisa dimaklumi
bila kaitan itu muncul, mengingat nilai-nilai luhur kemurnian sudah
biasa untuk dilanggar selama masa pacaran. Kepercayaan satu sama lain
juga bisa sangat berkurang, jika selama masa pacaran sudah biasa
berhubungan selayaknya suami istri. Rasa saling percaya yang rendah amat
tidak sehat dan tidak membangun di dalam sebuah perkawinan.
Untuk sejauh mungkin menghindari munculnya godaan percabulan yang
umumnya sangat kuat membayangi hubungan pacaran muda mudi, kita lakukan
kegiatan yang proaktif. Sebaiknya berkegiatan bersama di tempat yang
ramai dan banyak teman. Jangan mencari tempat-tempat sepi dan
tersembunyi untuk berduaan. Atau hindarilah hanya berdua di rumah dan
tempat kos. Tempat yang tersembunyi dan tidak diketahui orang lain
adalah tempat yang harus dihindari dalam kebersamaan dengan pacar kita.
Melalui Kitab Suci, Tuhan mengingatkan kita supaya kita berhati-hati
dengan kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ”Sebab
barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada
terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak,
tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya
menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
(Yoh 3: 20-21)
Juga sedapat mungkin hindarilah hiburan yang tidak sehat di dalam
musik, buku, film, yang menyajikan sensualitas. Jika mungkin, carilah
sebanyaknya kegiatan berdua dalam lingkup gereja, atau kegiatan
pengembangan diri bersama untuk mempersiapkan masa depan, misalnya
mengikuti pelatihan kerja atau kursus pengembangan diri berdua, ke
perpustakaan berdua untuk belajar suatu ketrampilan yang bermanfaat,
belajar memasak berdua, berkebun berdua, berolahraga bersama, saling
mencoba kegiatan yang menjadi hobi satu sama lain, dan kegiatan positif
lainnya. Kegiatan yang positif akan memanfaatkan energi masa muda yang
berlimpah kepada penyaluran yang sehat. Selama kasih dan iman kita
selalu dibentengi dengan doa-doa kepada Tuhan, sering merenungkan
Sabda-Nya, dan orientasi kepada masa depan yang penuh di dalam Tuhan,
niat kita akan selalu diteguhkanNya. Jika godaan untuk bermesraan secara
seksual tetap datang juga, cobalah untuk berdoa berdua, datang kepada
Tuhan dengan tulus, mohon kekuatan untuk bertahan dalam niat menjaga
kemurnian hingga godaan itu lewat. Doa Rosario adalah doa yang ampuh
untuk melawan kekuatan si jahat, bersama Bunda Maria yang selalu
mendoakan kita, rahmat Tuhan akan memampukan kita bertahan dalam
kemurnian dan sebagaimana rancangan-Nya yang indah dalam mengikuti Dia,
damai sejahtera-Nya akan selalu memelihara kita (lih. Filipi 4: 6-7).
Semakin baik juga jika kita memperkaya dan menguatkan motivasi kita
dengan membaca kisah para kudus dalam menjaga kesucian hidupnya,
misalnya kisah hidup St Agnes dan St Maria Gorreti, kita mohon
perantaraan doa mereka untuk bertahan dalam semangat kemurnian. Bersama
Kristus dan dalam Dia, kita bisa !
Maka berkaitan dengan usaha menjaga kemurnian itu, aspek lain yang
sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam berpacaran adalah
menemukan pacar yang seiman. Kitab Suci menyarankan hal ini di dalam 2
Kor 6: 14-15, ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang
dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat
antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu
dengan gelap? “ Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan
Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak
percaya?
Iman merupakan nilai-nilai dasar yang menopang hidup kita. Perbedaan
dalam menghayati nilai-nilai hidup akan sangat menyulitkan pasangan muda
mudi menjalani tantangan kehidupan. Karena sebagaimana telah dinyatakan
di atas, hidup tidak selalu dan selamanya mudah terus dan manis selalu.
Contohnya, dalam menghadapi berbagai godaan seksual yang telah
disebutkan di atas, kekuatan niat dan doa dari dua orang yang berpacaran
tentu lebih kuat dari niat satu orang saja, dan lebih kuat dari niat
bersama tapi dengan pemahaman iman yang berbeda. Dalam berbagai
persoalan hidup terutama dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak,
iman yang sama membuat tantangan kehidupan bisa diatasi berdua dengan
kekuatan yang lebih baik dan terpadu, serta kesamaan dalam memandang
nilai-nilai iman dan kehidupan. Sebaliknya, iman yang berbeda, bahkan
gereja yang berbeda, berpotensi menimbulkan masalah lain juga, misalnya
dalam hal mendidik anak-anak, dalam melakukan penghayatan devosional
sehari-hari, sampai relasi dengan keluarga besar. Maka sangat dianjurkan
para OMK untuk bijaksana dan proaktif dalam memperluas pergaulan dengan
teman-teman seiman dalam Gereja Katolik. Mengikuti aneka kegiatan
mudika di gereja, di lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah dan di
kampus dapat menjadi sarana yang baik untuk menemukan calon pasangan
hidup dari kalangan yang seiman dalam Gereja Katolik. Jangan lupa
berdoalah selalu agar Tuhan membimbing kita untuk menemukan pasangan
hidup yang tepat dan pada waktu yang tepat, seturut kehendak-Nya.
Sekilas pengajaran iman Katolik mengenai seksualitas manusia oleh Beato Yohanes Paulus II
Dalam lima tahun pertama masa kepausannya, Beato Yohanes Paulus II,
yaitu dalam 129 pertemuan audiensi umum setiap hari Rabu dari tahun 1979
hingga tahun 1984, telah mengajarkan kita keindahan rancangan Allah
melalui tubuh manusia, rancangan yang agung sedari semula tentang
seksualitas manusia, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.[3]
Pengajaran itu diberinya judul “Man and Woman He Created Them” (Lelaki
dan Perempuan Diciptakannya Mereka), judul yang dikutip dari Kejadian 1:27.
Kumpulan pengajaran itu kemudian disatukan dalam sebuah dokumen yang
dikenal luas sebagai “Teologi Tubuh” (Theology of the Body).
Tubuh manusia, baik dengan jenis kelamin lelaki maupun perempuan,
adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pribadi manusia. Melalui
tubuh dengan jenis kelamin inilah kita dipanggil untuk menjadi
“pemberian/ gift” kepada orang lain, yang secara khusus dinyatakan dalam
hubungan suami istri. Maka hubungan seks selalu mempunyai arti yang
suci dan luhur, sebab berkaitan dengan maksud Allah menciptakan manusia
untuk saling memberikan diri kepada pasangannya sehingga mereka dapat
saling mencintai dan melengkapi secara utuh, yang memungkinkan mereka
dapat turut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Saling
memberikan diri ini sifatnya menunjang (terbuka bagi) kehidupan. Dan
oleh karena kehidupan baru selalu berkaitan dengan tanggungjawab
melestarikannya, maka hubungan suami istri tak dapat begitu saja
dilakukan oleh pasangan yang tidak/ belum disatukan oleh Tuhan sebagai
suami istri. Sebab kesatuan suami dan istri mengambil gambaran dari
kesatuan Kristus sendiri dengan Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33), di mana
dalam kesatuan inilah kita semua sebagai anggotanya memperoleh kelahiran
baru dan kelestarian hidup ilahi.
Jika pasangan memisahkan seks dengan pribadi -yaitu dengan hanya
mengutamakan keinginan daging, tanpa melibatkan keinginan untuk memberi
dan menerima pasangan satu sama lain sebagai pribadi yang utuh (termasuk
jiwa dan tubuh pasangan dengan potensi tubuh untuk mengambil bagian
dalam karya penciptaan Allah), maka artinya pasangan tersebut tidak
menghidupi/ mengartikan tubuh/ jenis kelaminnya sebagaimana dimaksudkan
Allah sejak awal mula penciptaan, karena dimensi tubuh manusia secara
fisik (antropologis) tidak dapat dipisahkan dari dimensi ilahi
(teologis) yang dirancang oleh Penciptanya. Inilah kebenaran dari
seksualitas manusia yang membawa pada hidup yang berbuah dan damai
sejahtera bagi umat manusia. Pengetahuan dan penerapan akan kebenaran
selalu bersifat membebaskan dan membahagiakan, sebagaimana Tuhan juga
mengatakannya kepada kita, “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:32)
Indahnya menunggu
Setelah memahami alasan yang tepat dan sehat mengapa kita berpacaran,
dan menyadari berbagai latihan tanggungjawab dan kematangan yang
sedemikian besar yang diperlukan dalam sebuah hubungan pacaran, maka
kita menyadari bahwa kita tidak harus cepat-cepat punya pacar tanpa
alasan yang tepat, dan karena pacaran mempunyai dampak yang besar dalam
hidup kita, maka pacaran tidak untuk dilakukan dengan main-main.
Punyailah prinsip dan berani tampil beda demi kematangan dan
kebijaksanaan pribadi serta tanggungjawab kepada Tuhan, orangtua, serta
diri kita sendiri.
Menunda untuk berpacaran sampai kita merasa siap untuk
bertanggungjawab, tidak mengurangi kebebasan kita, justru memberi kita
kebebasan yang lebih penuh di masa muda, sambil kita sendiri menjadi
matang secara fisik, mental, dan spiritual. Dan kita justru terhindar
dari rasa sakit dan luka hati yang tidak perlu karena hubungan pacar
yang terlalu cepat berakhir karena dimulainya dengan dasar yang tidak
kokoh. Berikut ini beberapa dasar yang memberikan keindahan menunda :
Masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa yang penuh gejolak dan
perubahan, baik secara fisik maupun mental. Berilah waktu kepada diri
sendiri untuk menjadi lebih tenang dan stabil. Sambil mengenal diri
sendiri dengan lebih baik, bergaullah seluas-luasnya dengan teman-teman
yang baik. Mengenal diri sendiri dengan baik akan memampukan kita
mengenal dan memahami orang lain dengan lebih baik juga.
Masa muda juga adalah masa-masa menuntut ilmu dalam kegiatan studi
berbagai jenjang baik formal maupun informal. Kegiatan belajar
memerlukan konsentrasi yang tinggi sebagai bagian persiapan masa depan
yang baik. Di masa muda kita mulai belajar berdisiplin membagi waktu dan
mengelola tugas-tugas dengan baik. Jika ketrampilan ini masih
dipelajari, sementara sudah sambil membuat berbagai komitmen dalam
berpacaran, maka kesempatan berharga untuk belajar dan mengembangkan
diri tidak termanfaatkan dengan optimal.
Sambil menjalin persahabatan dengan banyak orang, termasuk dengan
lawan jenis, kita belajar bergaul dengan berbagai karakter sesama
manusia. Kelak, jika kita sudah siap secara mental untuk mengikatkan
komitmen pada satu orang, kita bisa lebih menghargainya sebagai seorang
sahabat yang baik untuk dikasihi dengan tulus, karena pada dasarnya
perkawinan adalah juga penyatuan dari dua sahabat baik.
Pergaulan yang sehat mendewasakan kta, melatih kita untuk menyaring
dengan bijaksana, pribadi yang sesuai dengan jati diri kita untuk
menjadi pasangan hidup kita kelak. Tidak cepat-cepat memutuskan untuk
pacaran dengan seseorang memberi kita kesempatan untuk menilai dengan
objektif, bagaimana kepribadian teman kita, terutama imannya (apakah ia
takut akan Tuhan dan menghormati hukum-hukum-Nya). Untuk mengevaluasi
temperamennya dalam mengatasi konflik, tanggungjawabnya dalam tugas
sehari-hari, dalam komunikasinya dengan orangtua dan keluarga, apakah ia
orang yang dapat dipercaya, apakah ia tekun dan sabar, dan lain-lain.
Lalu kira-kira bagaimana semua itu berpadu dengan karakter dan
kepribadian kita sendiri. Kalau sudah cepat-cepat memutuskan pacaran,
bisa jadi evaluasi kita sudah tidak terlalu objektif lagi.
Dan akhirnya tentang menunggu, kita telah mengerti sekarang, adalah
sangat penting untuk menunda melakukan relasi seksual dengan pacar kita.
Karena relasi seksual seperti berciuman, saling meraba, dan apalagi
hubungan selayaknya suami istri, adalah hadiah Tuhan bagi manusia untuk
dibuka pada saat yang tepat, yaitu setelah menjadi pasangan suami isteri
yang sah yang dikuduskan oleh Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik.
Dengan mengingat selalu kasih Tuhan yang menginginkan segala yang
terbaik dalam hidup kita, kita akan disibukkan oleh kegiatan saling
mengenal secara sehat dan berkegiatan bersama-sama untuk memuliakan nama
Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jangan berikan waktu untuk yang lain,
dan mengurbankan masa muda kita dan masa depan kita hanya untuk
mencoba-coba kenikmatan sesaat yang melepaskan kita dari cinta kasih
sejati yaitu cinta kasih Allah. Adalah indah untuk menunggu, dan menunda
membuka hadiah Tuhan itu hingga hari pernikahan kita tiba. Mengikuti
ajaran Tuhan, membuat pacaran menjadi semakin manis, sampai ke
pernikahan kelak. Kata orang kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis.
Dan pacaran makin terasa selangit, karena kita bahkan juga memperoleh
hadiah pengendalian diri, yang menguatkan perjalanan hidup kita
selanjutnya bersama pasangan yang kita cintai. Renungkanlah anjuran St
Paulus yang membekali kita untuk membuka hadiah terindah Tuhan itu pada
waktunya serta semangat dari kitab Mazmur, untuk menguatkan kita selalu:
Rm 12 : 1,2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah
aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu
adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia
ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna.
Ef 5 :8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang
kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak
terang”
Mazmur 119: 9,11, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan
kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dalam
hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau
Selasa, 04 Februari 2014
Bagaimanakah Pacaran Sebenarnya ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar