Subscribe:

Selasa, 04 Februari 2014

Bagaimanakah Pacaran Sebenarnya ?

Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam Minggu, seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman baik sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami kecuali berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak apel?” tanya saya dalam nada bercanda. Ia menyahut dengan santai, “Supaya teman-teman se-kos tidak mengira aku jomblo. Walau memang kenyataannya begitu, tapi kan malu kalau ketahuan belum punya pacar. Jadi jangan diam di rumah kos kalau malam Minggu tiba, ke rumah siapa pun jadi deh, biar nggak kelihatan jomblo.” Walaupun merasa maklum, sebenarnya saya heran mendengar jawabannya itu.
Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam Minggu, seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman baik sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami kecuali berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak
Dua puluh tahun kemudian, dan pastinya dua puluh tahun sebelum hari itu, rasanya motivasi sebagian anak muda dalam berpacaran belum banyak berubah. Ketika baru-baru ini saya berbincang dengan keponakan saya yang sudah SMA, ia bercerita tentang motivasi teman-temannya yang sudah mempunyai pacar. Pacaran meningkatkan status sosial, katanya tampak lebih keren dan gaul bila sudah punya pacar. Walaupun kebutuhan akan pengakuan dan status pergaulan adalah bagian dari gejolak masa remaja, tetaplah sangat penting bagi kaum muda untuk mempunyai alasan dan sikap yang tepat dalam berpacaran.
Kaum muda Katolik adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menjadi kudus dalam segala hal. Sebagaimana dinyatakanNya dalam 1 Petrus 1:14-16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” . Usia muda tidak harus tidak matang dalam iman, justru sedari muda kita belajar apa yang benar dan baik yang akan mengarahkan kita menjadi manusia dewasa yang seutuhnya, dalam kepenuhan kasih dan iman kepada Tuhan. Kita baca hal itu dalam 2 Tim 2:22, “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”
Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita dalam semua aspek hidup kita, termasuk dalam hal pergaulan. Di dalam Kitab Suci, Dia mengajarkan sikap-sikap yang baik dan terpuji menyangkut relasi kita dengan lawan jenis. Tuhan menghendaki demikian, sebenarnya pertama-tama demi kebahagiaan kita, karena Ia mengenal kita dengan sempurna sejak semula, dan karena Ia sangat mengasihi kita.

 Apakah pacaran itu?

Pacaran itu indah, jatuh cinta itu selangit, berjuta rasanya, kata syair lagu. Ketika kita masih duduk di awal bangku sekolah dasar, bergandengan tangan dengan teman yang berlainan jenis tidak menimbulkan perasaan apa-apa kecuali rasa gembira sebagai teman bermain. Namun menginjak usia pra-remaja, di mana perkembangan fungsi tubuh dan hormonal mulai menjadi dominan, kebersamaan dengan teman lawan jenis menumbuhkan perasaan suka yang berbeda. Ketika dua insan berlainan jenis selalu ingin menghabiskan waktu bersama, merasa aman dan nyaman satu sama lain, berkegiatan bersama, baik lewat pertemuan secara fisik maupun lewat berbagai sarana alat komunikasi, dengan diikuti ketertarikan secara seksual dan romantisme, maka relasi di antara keduanya disebut berpacaran. Tuhan memang menciptakan manusia untuk saling mengasihi. Dalam pacaran, manusia mengenal bentuk saling mengasihi itu secara khusus dalam perasaan cinta kepada lawan jenis, dalam artian, ingin memberi, melindungi, dan mengasihi lawan jenis yang dicintai. Relasi ini bersifat eksklusif, artinya hanya melibatkan perasaan kedua orang yang terlibat di dalamnya. Dalam hubungan pacaran yang baik, harus ada unsur-unsur yang menjaga kelanggengannya dan memastikan tujuannya tercapai, di antaranya secara umum adalah kesetiaan, kejujuran, saling menghormati dan menghargai, tanggungjawab, dan komitmen.

Mengapa kita pacaran

Jika hanya mengikuti dorongan alami dari fungsi-fungsi hormonal tubuh, bisa-bisa manusia berpacaran dengan siapa saja yang ia suka dan kapan pun ia mau. Tetapi tentu tidak dapat demikian, karena manusia adalah mahluk berakal budi, ciptaan tertinggi yang dikaruniai hikmat untuk mengikuti norma-norma kebaikan dari hati nuraninya. Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Penciptanya, sehingga ia disebut sebagai citra Allah. Ia juga dipanggil untuk berpasangan dan beranak cucu melalui sebuah relasi yang disebut perkawinan kudus yang tak terceraikan.
Karena manusia mempunyai martabat paling tinggi sedemikian, dan dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola alam ciptaan dengan akal budinya, maka setiap tindak tanduknya harus didasari oleh tujuan yang mulia dan alasan yang menjunjung tinggi martabat itu. Tidak terkecuali dalam berpacaran, yang merupakan langkah awal sebelum jenjang perkawinan. Motivasi yang benar dalam berpacaran mengarahkan muda mudi untuk berpacaran dengan sehat dan mencapai tujuannya yang benar dalam memuliakan martabatnya sebagai manusia sesuai dengan tugas dan panggilan Tuhan baginya. Sebaliknya, berpacaran sekedar untuk status, demi ego pribadi, demi memuaskan dorongan seksual semata , atau untuk sekedar bersenang-senang saja, justru berpotensi menimbulkan kesedihan, misalnya luka dalam hati, perbuatan dosa dan rasa bersalah, rusaknya hubungan baik, bahkan kehamilan di luar nikah, atau pernikahan dini yang terpaksa dijalani karena kehamilan di luar pernikahan itu dan bukan didasari oleh cinta yang sejati dengan pertimbangan kecocokan yang matang. Ujungnya adalah masalah, dan bukannya kebahagiaan. Bisa-bisa pacaran tidak lagi berjuta rasanya, tetapi berjuta masalahnya.
Pacaran yang sehat didasari oleh kasih yang tulus dan kebutuhan untuk menemukan pasangan hidup yang tepat, di mana kedua insan berusaha saling mengenal pribadi satu sama lain, mengembangkan cinta kasih sejati, untuk kemudian menikah membentuk keluarga yang dikuduskan dalam sakramen Gereja-Nya, Sakramen Perkawinan. Di dalamnya, Tuhan menghendaki pria dan wanita berketurunan dan membentuk keluarga yang saling mencintai, menghormati, dan melayani dalam kasih dan kesetiaan yang tulus hingga akhir hayat. Semangat kasih dan hormat kepada Tuhan mendasari semua bentuk ungkapan kasih di dalamnya. Kasih yang Tuhan maksudkan adalah kasih yang dituliskan St Paulus dalam 1 Kor 13: 4-7, yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, dan masih banyak lagi.
Keluarga adalah pilar paling dasar yang menopang sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Maka persiapan membentuk keluarga yang diawali dengan proses pacaran mempunyai makna dan tujuan yang sangat penting dan mulia, dan oleh karenanya harus disikapi dan dijalani dengan bijaksana, dengan senantiasa menerapkan apa yang baik yang dikehendaki Tuhan di dalam sebuah relasi berpacaran antara pria dan wanita. Itulah sebabnya, menjalani masa pacaran yang sehat dan sesuai dengan ajaran kasih Tuhan juga akan memberikan bekal berharga bagi kehidupan perkawinan yang bahagia dan langgeng.

Pacaran yang baik yang bagaimana?

Karena tujuannya adalah menemukan pasangan hidup yang tepat sebelum memasuki jenjang perkawinan dan membentuk keluarga yang bahagia, pacaran yang sehat melibatkan sebuah proses. Proses untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain, mengembangkan sikap saling menerima kelemahan dan kelebihan satu sama lain, latihan mengendalikan diri dan bertanggung jawab, latihan untuk berbagi, untuk mendahulukan kepentingan pihak lain dalam semangat saling melayani, latihan menikmati kebersamaan dan berbagi sukacita bersama. Dan tak kalah penting dari semuanya, latihan menjaga kemurnian. Karena “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. “(1 Tes 4 :7)
Proses sedemikian itu memerlukan kematangan dan pada gilirannya juga akan mengembangkan kematangan dari dua insan yang berpacaran. Menjadi makin matang, bertangunggjawab, dan lebih tidak mementingkan diri sendiri adalah beberapa indikator yang baik dari sebuah pacaran yang sehat. Aspek-aspek yang dipelajari dalam sebuah proses saling mengenal itu misalnya seperti di bawah ini:
1. Belajar untuk mencintai
Dalam berpacaran yang baik, cinta yang menerima (eros) dikembangkan sedikit demi sedikit menjadi cinta yang memberi, dan tidak bersyarat (agape).[1] Cinta itu memberi. Sejak kecil, kita telah menerima cinta dan mengalami dicintai oleh orangtua dan saudara-saudara dalam keluarga. Semakin kita tumbuh besar, kita pun merespon cinta yang kita terima itu dengan tindakan dan perasaan mencintai yang sama. Semua itu sebenarnya adalah cinta Tuhan yang membara kepada kita. Namun cinta yang diajarkanNya adalah memberi tanpa syarat, yaitu dengan tulus demi kebaikan dan kepentingan pihak yang dicintai. Cinta yang sedemikian ini tidak diberikan hanya kalau pihak yang diberi melakukan hal-hal yang sesuai dengan yang kita mau, tetapi memberi karena cinta itu sendiri menggerakkan kita memberi karena mengasihi, menerima dan menghormati pacar kita apa adanya.
2. Belajar membedakan hak dan kewajiban
Karena sudah menjadi kekasih dan merasa saling memiliki, bukan berarti kita dapat berbuat apa saja dengan pacar kita dan menuntut pacar kita melakukan apa pun yang kita inginkan. Kadang-kadang atas nama cinta, kita terjebak dalam relasi yang saling menuntut dan bukannya saling memberi. Pemuda dan pemudi wajib untuk saling melindungi, selain secara fisik dan mental, juga terutama dalam hal menjaga kemurnian satu sama lain. Jika pemuda meminta pacarnya melakukan hubungan badan, itu bukan dalam rangka menuntut haknya, justru melanggar kewajibannya untuk menjaga kemurnian pacarnya. Jika pemudi memanfaatkan pacarnya untuk kesenangannya sendiri misalnya minta diantar ke manapun tanpa ingat waktu dan kesibukan sang pacar, minta dibelikan makanan atau benda yang mahal, maka semua itu bukan haknya untuk dipenuhi. Hak yang sehat untuk dipenuhi misalnya adalah hak untuk berdiskusi mengenai rencana masa depan (ingatlah bahwa perkawinan Katolik adalah tak terceraikan, perkawinan adalah untuk selamanya, sehingga sangat penting selama masa-masa belajar berkomitmen di masa pacaran, sepasang kekasih mengeksplor seluas-luasnya ketrampilan untuk saling memahami dan menerima satu sama lain, saling mengungkapkan harapan dan kebutuhan, di dalam konteks perencanaan masa depan berdua), kemudian hak untuk tetap saling mempunyai kebebasan dan waktu-waktu sendiri bersama keluarga atau teman baik, hak untuk tetap menjadi diri sendiri, hak untuk tetap mempunyai hobi masing-masing, dan hak untuk mempunyai waktu khusus bagi Tuhan. Hal semacam ini menjadikan pacaran mendewasakan kita, mari merenungkan lebih lanjut tentang hal ini, dalam 2 Pet 1 : 5-7, “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”
3. Belajar menjadi realistis
Walaupun sedang dalam suasana asmara dan romantisme, pasangan yang berpacaran tetap tidak boleh melupakan realitas kehidupan, yang tidak selalu segalanya manis, romantis dan berbunga-bunga setiap waktu. Maka waktu-waktu berdua hendaknya jangan hanya dihabiskan dengan kegiatan yang sifatnya hanya bersenang-senang seperti rekreasi, makan di restoran, nonton bioskop, berjalan-jalan di pertokoan, atau berbelanja berdua saja. Sesekali luangkan waktu mengunjungi saudara atau teman yang sedang mengalami kesusahan atau sakit, memberikan perhatian kepada orang-orang yang kesepian atau sudah lanjut usia, dan beribadah bersama. Maka sangatlah baik jika pasangan adalah pemuda pemudi yang seiman dalam Kristus, karena kegiatan merayakan Misa berdua dan melakukan pelayanan kasih bersama teman-teman OMK menjadi lebih dimungkinkan.

Apa yang dikehendaki Tuhan dalam pacaran yang sehat

Hal kemurnian baik dalam kata-kata, pikiran, dan terutama tindakan, adalah hal yang sangat penting dalam berpacaran. Kurangnya rasa hormat, kasih dan takut kepada Tuhan serta kurangnya kesadaran untuk bertanggungjawab terhadap masa depan berdua rentan membawa muda mudi dalam dosa percabulan karena nafsu seksual yang tidak dikendalikan. Dalam 1 Tes 4 :3 kita membaca, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan”. Setiap relasi dan tindakan seksual yang dilakukan di luar hubungan perkawinan yang sah, adalah tindakan percabulan.
Dunia anak muda tidak terpisahkan dengan dunia cinta dan cerita romantisme masa muda, walau kisah cinta akan selalu dinikmati oleh semua kalangan dan usia. Percintaan dua anak manusia tidak habis-habisnya menjadi inspirasi dalam dunia seni, sastra, musik, hingga film. Sayangnya, tidak banyak film dan bacaan yang beredar di kalangan remaja, yang memberikan contoh yang sejalan dengan semangat kasih yang murni dalam berpacaran, sebagaimana dikehendaki Tuhan. Nilai-nilai duniawi yang laku untuk dijual memang nilai yang mengumbar kesenangan dan hawa nafsu, kepuasan diri dan kegembiraan sesaat. Jika kaum muda Katolik tidak dibekali dengan pemahaman akan nilai-nilai luhur dalam hubungan kasih dengan lawan jenis, maka kekosongan itu segera diisi oleh membanjirnya tawaran nilai dunia hiburan yang dekat dengan keseharian anak muda. Perasaan mengasihi yang tulus dan bertanggungjawab disempitkan dalam sekedar pernyataan seksual sebagai bentuk ungkapan cinta. Rambu-rambu yang penting untuk diajarkan di dalam berpacaran menjadi asing bagi kebanyakan anak muda. Berciuman, saling meraba, hingga akhirnya melakukan hubungan selayaknya suami istri menjadi kecenderungan yang mengaburkan nilai berpacaran sejati yang seharusnya dikembangkan. Alih-alih saling mengenal, belajar bertanggungjawab, belajar memberikan komitmen dan kesetiaan, belajar saling berkorban, dan berlatih mengendalikan diri, malahan banyak remaja justru jatuh dalam dosa percabulan. Padahal rentetan dosa percabulan itu mengakibatkan kerumitan dan penderitaan, misalnya tersiksa oleh perasaan bersalah, timbulnya sifat posesif dan egoisme, muncul perilaku kecanduan seks, terjadinya kehamilan di luar perkawinan, timbulnya penyakit kelamin dan penyakit alat reproduksi yang bisa berakibat fatal, hingga aborsi. Di sini kita melihat dengan jelas salah satu alasan kasih dan keselamatan di balik mengapa Tuhan memberikan ajaran, perintah, dan larangan di dalam relasi kasih antara dua anak manusia dalam berpacaran, yaitu dalam 1 Kor 6 :15, 18, “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.”
Menurut survey yang dilakukan Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia, ditemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi.[2] Kenyataan ini sangat memprihatinkan. Pihak orangtua, gereja, dan sekolah adalah pihak-pihak yang selayaknya setia memberikan pendidikan seks yang baik kepada orang muda secara rutin dan berkesinambungan. Kebutuhan ini mendesak dan memerlukan tindak lanjut yang konkrit. Tuhan meminta dengan jelas hal ini dalam Ams 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Pasangan yang longgar dalam pengekangan diri terhadap godaan berhubungan seksual di masa pacaran, jika akhirnya berhasil memasuki bahtera rumah tangga, umumnya menjadi lebih rentan terhadap godaan perselingkuhan dan hubungan seksual di luar perkawinan. Bisa dimaklumi bila kaitan itu muncul, mengingat nilai-nilai luhur kemurnian sudah biasa untuk dilanggar selama masa pacaran. Kepercayaan satu sama lain juga bisa sangat berkurang, jika selama masa pacaran sudah biasa berhubungan selayaknya suami istri. Rasa saling percaya yang rendah amat tidak sehat dan tidak membangun di dalam sebuah perkawinan.
Untuk sejauh mungkin menghindari munculnya godaan percabulan yang umumnya sangat kuat membayangi hubungan pacaran muda mudi, kita lakukan kegiatan yang proaktif. Sebaiknya berkegiatan bersama di tempat yang ramai dan banyak teman. Jangan mencari tempat-tempat sepi dan tersembunyi untuk berduaan. Atau hindarilah hanya berdua di rumah dan tempat kos. Tempat yang tersembunyi dan tidak diketahui orang lain adalah tempat yang harus dihindari dalam kebersamaan dengan pacar kita. Melalui Kitab Suci, Tuhan mengingatkan kita supaya kita berhati-hati dengan kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ”Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak, tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3: 20-21)
Juga sedapat mungkin hindarilah hiburan yang tidak sehat di dalam musik, buku, film, yang menyajikan sensualitas. Jika mungkin, carilah sebanyaknya kegiatan berdua dalam lingkup gereja, atau kegiatan pengembangan diri bersama untuk mempersiapkan masa depan, misalnya mengikuti pelatihan kerja atau kursus pengembangan diri berdua, ke perpustakaan berdua untuk belajar suatu ketrampilan yang bermanfaat, belajar memasak berdua, berkebun berdua, berolahraga bersama, saling mencoba kegiatan yang menjadi hobi satu sama lain, dan kegiatan positif lainnya. Kegiatan yang positif akan memanfaatkan energi masa muda yang berlimpah kepada penyaluran yang sehat. Selama kasih dan iman kita selalu dibentengi dengan doa-doa kepada Tuhan, sering merenungkan Sabda-Nya, dan orientasi kepada masa depan yang penuh di dalam Tuhan, niat kita akan selalu diteguhkanNya. Jika godaan untuk bermesraan secara seksual tetap datang juga, cobalah untuk berdoa berdua, datang kepada Tuhan dengan tulus, mohon kekuatan untuk bertahan dalam niat menjaga kemurnian hingga godaan itu lewat. Doa Rosario adalah doa yang ampuh untuk melawan kekuatan si jahat, bersama Bunda Maria yang selalu mendoakan kita, rahmat Tuhan akan memampukan kita bertahan dalam kemurnian dan sebagaimana rancangan-Nya yang indah dalam mengikuti Dia, damai sejahtera-Nya akan selalu memelihara kita (lih. Filipi 4: 6-7). Semakin baik juga jika kita memperkaya dan menguatkan motivasi kita dengan membaca kisah para kudus dalam menjaga kesucian hidupnya, misalnya kisah hidup St Agnes dan St Maria Gorreti, kita mohon perantaraan doa mereka untuk bertahan dalam semangat kemurnian. Bersama Kristus dan dalam Dia, kita bisa !
Maka berkaitan dengan usaha menjaga kemurnian itu, aspek lain yang sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam berpacaran adalah menemukan pacar yang seiman. Kitab Suci menyarankan hal ini di dalam 2 Kor 6: 14-15, ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? “ Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?
Iman merupakan nilai-nilai dasar yang menopang hidup kita. Perbedaan dalam menghayati nilai-nilai hidup akan sangat menyulitkan pasangan muda mudi menjalani tantangan kehidupan. Karena sebagaimana telah dinyatakan di atas, hidup tidak selalu dan selamanya mudah terus dan manis selalu. Contohnya, dalam menghadapi berbagai godaan seksual yang telah disebutkan di atas, kekuatan niat dan doa dari dua orang yang berpacaran tentu lebih kuat dari niat satu orang saja, dan lebih kuat dari niat bersama tapi dengan pemahaman iman yang berbeda. Dalam berbagai persoalan hidup terutama dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak, iman yang sama membuat tantangan kehidupan bisa diatasi berdua dengan kekuatan yang lebih baik dan terpadu, serta kesamaan dalam memandang nilai-nilai iman dan kehidupan. Sebaliknya, iman yang berbeda, bahkan gereja yang berbeda, berpotensi menimbulkan masalah lain juga, misalnya dalam hal mendidik anak-anak, dalam melakukan penghayatan devosional sehari-hari, sampai relasi dengan keluarga besar. Maka sangat dianjurkan para OMK untuk bijaksana dan proaktif dalam memperluas pergaulan dengan teman-teman seiman dalam Gereja Katolik. Mengikuti aneka kegiatan mudika di gereja, di lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah dan di kampus dapat menjadi sarana yang baik untuk menemukan calon pasangan hidup dari kalangan yang seiman dalam Gereja Katolik. Jangan lupa berdoalah selalu agar Tuhan membimbing kita untuk menemukan pasangan hidup yang tepat dan pada waktu yang tepat, seturut kehendak-Nya.

Sekilas pengajaran iman Katolik mengenai seksualitas manusia oleh Beato Yohanes Paulus II

Dalam lima tahun pertama masa kepausannya, Beato Yohanes Paulus II, yaitu dalam 129 pertemuan audiensi umum setiap hari Rabu dari tahun 1979 hingga tahun 1984, telah mengajarkan kita keindahan rancangan Allah melalui tubuh manusia, rancangan yang agung sedari semula tentang seksualitas manusia, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.[3] Pengajaran itu diberinya judul “Man and Woman He Created Them” (Lelaki dan Perempuan Diciptakannya Mereka), judul yang dikutip dari Kejadian 1:27. Kumpulan pengajaran itu kemudian disatukan dalam sebuah dokumen yang dikenal luas sebagai “Teologi Tubuh” (Theology of the Body).
Tubuh manusia, baik dengan jenis kelamin lelaki maupun perempuan, adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pribadi manusia. Melalui tubuh dengan jenis kelamin inilah kita dipanggil untuk menjadi “pemberian/ gift” kepada orang lain, yang secara khusus dinyatakan dalam hubungan suami istri. Maka hubungan seks selalu mempunyai arti yang suci dan luhur, sebab berkaitan dengan maksud Allah menciptakan manusia untuk saling memberikan diri kepada pasangannya sehingga mereka dapat saling mencintai dan melengkapi secara utuh, yang memungkinkan mereka dapat turut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Saling memberikan diri ini sifatnya menunjang (terbuka bagi) kehidupan. Dan oleh karena kehidupan baru selalu berkaitan dengan tanggungjawab melestarikannya, maka hubungan suami istri tak dapat begitu saja dilakukan oleh pasangan yang tidak/ belum disatukan oleh Tuhan sebagai suami istri. Sebab kesatuan suami dan istri mengambil gambaran dari kesatuan Kristus sendiri dengan Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33), di mana dalam kesatuan inilah kita semua sebagai anggotanya memperoleh kelahiran baru dan kelestarian hidup ilahi.
Jika pasangan memisahkan seks dengan pribadi -yaitu dengan hanya mengutamakan keinginan daging, tanpa melibatkan keinginan untuk memberi dan menerima pasangan satu sama lain sebagai pribadi yang utuh (termasuk jiwa dan tubuh pasangan dengan potensi tubuh untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah), maka artinya pasangan tersebut tidak menghidupi/ mengartikan tubuh/ jenis kelaminnya sebagaimana dimaksudkan Allah sejak awal mula penciptaan, karena dimensi tubuh manusia secara fisik (antropologis) tidak dapat dipisahkan dari dimensi ilahi (teologis) yang dirancang oleh Penciptanya. Inilah kebenaran dari seksualitas manusia yang membawa pada hidup yang berbuah dan damai sejahtera bagi umat manusia. Pengetahuan dan penerapan akan kebenaran selalu bersifat membebaskan dan membahagiakan, sebagaimana Tuhan juga mengatakannya kepada kita, “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:32)

Indahnya menunggu 

Setelah memahami alasan yang tepat dan sehat mengapa kita berpacaran, dan menyadari berbagai latihan tanggungjawab dan kematangan yang sedemikian besar yang diperlukan dalam sebuah hubungan pacaran, maka kita menyadari bahwa kita tidak harus cepat-cepat punya pacar tanpa alasan yang tepat, dan karena pacaran mempunyai dampak yang besar dalam hidup kita, maka pacaran tidak untuk dilakukan dengan main-main. Punyailah prinsip dan berani tampil beda demi kematangan dan kebijaksanaan pribadi serta tanggungjawab kepada Tuhan, orangtua, serta diri kita sendiri.
Menunda untuk berpacaran sampai kita merasa siap untuk bertanggungjawab, tidak mengurangi kebebasan kita, justru memberi kita kebebasan yang lebih penuh di masa muda, sambil kita sendiri menjadi matang secara fisik, mental, dan spiritual. Dan kita justru terhindar dari rasa sakit dan luka hati yang tidak perlu karena hubungan pacar yang terlalu cepat berakhir karena dimulainya dengan dasar yang tidak kokoh. Berikut ini beberapa dasar yang memberikan keindahan menunda :
Masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa yang penuh gejolak dan perubahan, baik secara fisik maupun mental. Berilah waktu kepada diri sendiri untuk menjadi lebih tenang dan stabil. Sambil mengenal diri sendiri dengan lebih baik, bergaullah seluas-luasnya dengan teman-teman yang baik. Mengenal diri sendiri dengan baik akan memampukan kita mengenal dan memahami orang lain dengan lebih baik juga.
Masa muda juga adalah masa-masa menuntut ilmu dalam kegiatan studi berbagai jenjang baik formal maupun informal. Kegiatan belajar memerlukan konsentrasi yang tinggi sebagai bagian persiapan masa depan yang baik. Di masa muda kita mulai belajar berdisiplin membagi waktu dan mengelola tugas-tugas dengan baik. Jika ketrampilan ini masih dipelajari, sementara sudah sambil membuat berbagai komitmen dalam berpacaran, maka kesempatan berharga untuk belajar dan mengembangkan diri tidak termanfaatkan dengan optimal.
Sambil menjalin persahabatan dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, kita belajar bergaul dengan berbagai karakter sesama manusia. Kelak, jika kita sudah siap secara mental untuk mengikatkan komitmen pada satu orang, kita bisa lebih menghargainya sebagai seorang sahabat yang baik untuk dikasihi dengan tulus, karena pada dasarnya perkawinan adalah juga penyatuan dari dua sahabat baik.
Pergaulan yang sehat mendewasakan kta, melatih kita untuk menyaring dengan bijaksana, pribadi yang sesuai dengan jati diri kita untuk menjadi pasangan hidup kita kelak. Tidak cepat-cepat memutuskan untuk pacaran dengan seseorang memberi kita kesempatan untuk menilai dengan objektif, bagaimana kepribadian teman kita, terutama imannya (apakah ia takut akan Tuhan dan menghormati hukum-hukum-Nya). Untuk mengevaluasi temperamennya dalam mengatasi konflik, tanggungjawabnya dalam tugas sehari-hari, dalam komunikasinya dengan orangtua dan keluarga, apakah ia orang yang dapat dipercaya, apakah ia tekun dan sabar, dan lain-lain. Lalu kira-kira bagaimana semua itu berpadu dengan karakter dan kepribadian kita sendiri. Kalau sudah cepat-cepat memutuskan pacaran, bisa jadi evaluasi kita sudah tidak terlalu objektif lagi.
Dan akhirnya tentang menunggu, kita telah mengerti sekarang, adalah sangat penting untuk menunda melakukan relasi seksual dengan pacar kita. Karena relasi seksual seperti berciuman, saling meraba, dan apalagi hubungan selayaknya suami istri, adalah hadiah Tuhan bagi manusia untuk dibuka pada saat yang tepat, yaitu setelah menjadi pasangan suami isteri yang sah yang dikuduskan oleh Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik. Dengan mengingat selalu kasih Tuhan yang menginginkan segala yang terbaik dalam hidup kita, kita akan disibukkan oleh kegiatan saling mengenal secara sehat dan berkegiatan bersama-sama untuk memuliakan nama Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jangan berikan waktu untuk yang lain, dan mengurbankan masa muda kita dan masa depan kita hanya untuk mencoba-coba kenikmatan sesaat yang melepaskan kita dari cinta kasih sejati yaitu cinta kasih Allah. Adalah indah untuk menunggu, dan menunda membuka hadiah Tuhan itu hingga hari pernikahan kita tiba. Mengikuti ajaran Tuhan, membuat pacaran menjadi semakin manis, sampai ke pernikahan kelak. Kata orang kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis. Dan pacaran makin terasa selangit, karena kita bahkan juga memperoleh hadiah pengendalian diri, yang menguatkan perjalanan hidup kita selanjutnya bersama pasangan yang kita cintai. Renungkanlah anjuran St Paulus yang membekali kita untuk membuka hadiah terindah Tuhan itu pada waktunya serta semangat dari kitab Mazmur, untuk menguatkan kita selalu:
Rm 12 : 1,2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ef 5 :8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang”
Mazmur 119: 9,11, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau

Selengkapnya...

IMAN MENURUT AJARAN GEREJA KATOLIK




Apakah Iman itu Sebenarnya Menurut Gereja Katolik
• Gereja mengajarkan bahawa iman itu adalah pemberian atau karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita melalui Roh Kudus.
• Ia merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah kepada kita secara percuma.

KGK no: 37-38
Menyatakan bahawa untuk mengetahui Allah dengan akal sahaja manusia mengalami berbagai kesukaran.
Sesungguhnya, dengan dirinya sendiri sahaja ia tidak mampu untuk masuk ke dalam keakraban dengan misteri ilahi.
Maka ia perlu diterangi dengan wahyu Allah, bukan sahaja mengenai perkara-perkara yang melampaui batas kefahamannya, tetapi juga perkara-perkara kebenaran religius dan moral.

KGK No: 50-53, 68-69
• Mengatakan bahawa dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan menyatakan diri-Nya.
• Dengan perbuatan dan perkataan, Dia menyatakan diri-Nya dan rencana kebaikan penuh kasih-Nya yang ditetapkannya sejak semula di dalam Kristus.
• Menurut rencana ini, semua orang oleh kuasa Roh Kudus berkongsi di dalam kehidupan ilahi sebagai “anak-anak” angkat di dalam Putera Allah yang tunggal.

KGK No: 54-58, 70-71
Menjelaskan, sejak permulaan, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada manusia pertama, Adam dan Hawa, kemudian mengajak mereka membangun hubungan akrab dengan-Nya.

Selepas kejatuhan mereka dalam dosa, Dia tidak menamatkan wahyu-Nya kepada mereka tetapi menjanjikan keselamatan kepada seluruh keturunan mereka.
Selepas air bah, Dia mengadakan perjanjian dengan Nuh, satu perjanjian antara Dia dengan seluruh makhluk hidup.

KGK No: 65-66, 73
• Tahap penuh dan muktamad wahyu Allah disempurnakan di dalam Firman-Nya yang menjadi manusia, yakni Yesus Kristus, perantara yang menggenapi seluruh Wahyu.
• Dia, sebagai Putera Tunggal Allah yang menjadi manusia, adalah Firman Bapa yang sempurna dan muktamad.
• Wahyu kini telah lengkap, walaupun iman Gereja harus secara beransur-ansur memahami maknanya yang sepenuh sepanjang peredaran abad.

KGK No: 74
Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4), iaitu, Yesus Kristus.
Atas sebab ini, Kristus harus diwartakan kepada semua menurut perintah-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).
Dan ini dilaksanakan melalui Tradisi Apostolik.

KGK. 84, 91, 94, 99
Para Rasul mempercayakan inti iman kepada seluruh Gereja. Syukur kerana pengertian iman umat Allah yang adikudrati (supernatural), dibantu oleh Roh Kudus dan dibimbing oleh Magisterium Gereja; Gereja tidak putus-putus untuk menerima, menyelami secara mendalam dan menghidupinya secara penuh dari anugerah wahyu ilahi.

KGK. 131-133, 141-142
• Kitab Suci memberi sokongan dan tenaga kepada kehidupan Gereja. Bagi anak-anak Gereja, ia adalah sebuah pengesahan iman, makanan bagi jiwa dan mata air bagi kehidupan rohani.
• Kitab Suci adalah jiwa bagi teologi dan pewartaan pastoral. Pemazmur berkata bahawa ia adalah “Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).
• Oleh itu, Gereja mengesyorkan agar semua sentiasa membaca Kitab Suci kerana “kejahilan terhadap Kitab Suci bermakna juga kejahilan terhadap Kristus” (St. Jerome).

Sifat-Sifat Iman Kristian

KGK No: 153-165, 179-180, 183-184
• Iman adalah sifat baik adikudrati (supernatural) yang mana perlu bagi keselamatan.
• Ia adalah kurnia percuma dari Allah dan dapat dicapai bagi mereka yang secara rendah hati mencarinya.
• Tindakan iman adalah satu tindakan manusia, iaitu, suatu tindakan dari pemikiran seorang peribadi – didorong oleh keinginan yang digerakkan oleh Allah – yang secara bebas bersetuju dengan kebenaran ilahi.
• Iman adalah juga nyata kerana ia berdasarkan Firman Allah: ia bekerja “oleh kasih” (Galatia 5:6); dan ia tumbuh secara berterusan melalui pendengaran akan Firman Allah serta melalui doa.
• Ia juga, adalah mencicipi sukacita syurgawi sekarang ini.

KGK No: 166-169, 181
• Iman merupakan tindakan peribadi kerana ia adalah jawapan bebas manusia kepada Allah yang menyatakan diri-Nya. Tetapi dalam masa yang sama ia adalah suatu tindakan kegerejaan yang mengungkapkan dirinya sendiri di dalam pewartaan, “Kami percaya”.
• Sebenarnya Gerejalah yang percaya: dan dengan demikian oleh rahmat Roh Kudus mendahului, membentuk dan menyuburkan iman setiap umat Kristian. Atas sebab inilah Gereja adalah Ibu dan Guru.
“Tiada seorang dapat memiliki Allah sebagai Bapa jika tidak memiliki Gereja sebagai Ibu.”
(Santo Siprian)

KGK No: 170-171
Rumusan iman (Syahadat/Aku Percaya) adalah penting kerana ia membuatkan seseorang mengungkapkan, menyerapkan, merayakan dan mengongsikan dengan yang lain kebenaran iman melalui satu bahasa umum.

KGK No: 172-175, 182
• Gereja, walaupun terdiri dari peribadi-peribadi yang mempunyai berbagai-bagai bahasa, budaya dan tatacara, bagaimanapun mengakui dengan satu suara akan iman yang telah diterima dari Tuhan yang satu dan dilanjutkan oleh Tradisi Apostolik.
• Ia mengakui satu Allah saja, Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan mengarah kepada satu jalan keselamatan.
• Oleh itu, kita percaya dengan sehati dan sejiwa semua yang terkandung di dalam Firman Allah, yang diperturunkan atau dituliskan, dan yang mana diakui oleh Gereja sebagai wahyukan oleh ilahi.

Iman Merupakan Pengalaman Hubungan Dengan Allah

Pengalaman Akan Kehadiran Allah

• Iman itu lebih daripada mengetahui dan percaya akan kewujudan Allah.
• Ia merupakan suatu pengalaman yang terindah akan kehadiran Allah di dalam kehidupan seseorang.
• Mengalami Allah sebagai yang Mahakuasa, Bapa yang maha pengasih, pengampun, penyelamat, pelindung, penolong, penghibur, kekuatan dan bahawa Dia adalah segala-galanya bagi orang yang sungguh-sungguh beriman.

Penyerahan Hidup Kepada Allah

• Melalui pengalaman iman ini seseorang itu menyerahkan seluruh hidupnya atau dirinya kepada Allah (ruj. Lk 1:38 iman Bonda Maria).
• Iman itu tidak dapat diajarkan kepada sesiapa, ia hanya dapat dikongsikan dan disaksikan kepada orang lain.
• Iman bermula dari hati ke roh seseorang melalui mendengar firman Tuhan.
• Bila iman itu sudah menjiwai seseorang walau apa pun berlaku sehingga nyawanya tergadai sekalipun kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah tidak akan tergugat sama sekali (ruj. Mat 7:24-27).

Iman Itu Hidup dan Dinamik


Iman Adalah Suatu Proses

Perkembangan iman merupakan suatu proses pertaubatan setiap hari dengan memusatkan kehidupan harian pada Kristus atau membangun hubungan intim dengan-Nya.

Menerima Yesus sebagai Tuhan atas segala-galanya dalam kehidupan kita. Tuhan atas segala yang kita lakukan, fikirkan, kelemahan, kekuatan, kegembiraan dan kesedihan (ruj. Gal 2:20).

Iman Adalah Hubungan Peribadi Dengan Tuhan
• Iman itu adalah hubungan dengan Allah secara personal dan dengan ciptaan-Nya, iaitu dengan sesama manusia dan alam semulajadi.
• Iman itu adalah respond atau sahutan kepada kehendak Allah untuk melayani-Nya dan sesama kita dalam cinta kasih, pengharapan dan sukacita (Mk 12:30-31).
• Iman adalah melakukan pelayanan untuk kebaikan semua orang seperti yang dikata oleh Yokobus, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yok 2:17).
• Tanpa kasih iman tidak akan bertumbuh, ia akan menjadi layu dan tidak berguna (1 Kor 13:1-13).

Iman Bukanlah Perasaan
• Iman itu bukanlah perasaan tetapi membuka diri sepenuhnya secara radikal kepada kehendak Allah dalam pesanan Injil.
• Iman itu adalah seperti: benih yang tumbuh membesar dan menghasilkan buah, terang yang menerangi kegelapan dan garam yang memberi rasa dan erti pada kehidupan manusia.
• Tanpa iman Roh Kudus tidak dapat berkarya di dalam diri kita. Kehidupan Kristian akan menjadi kosong dan tidak memberi erti dalam kehidupan.
• Maka adalah amat penting untuk selalu berdoa meminta karunia iman dari Allah dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk meneguh dan mengembangkan iman kita.

7 Peringkat Iman

1. Iman Kanak-Kanak
Apabila seorang bayi atau anak kecil dibaptis, dosa asal dan kuasa kejahatan dihapuskan dan dia menerima Roh Kudus dan kehidupan baru. Tetapi anak itu tidak menyedarinya. Maka dia tidak dapat mempraktik kehidupan barunya dan tidak aktif dalam iman. Masih ramai orang Kristian dewasa yang terperangkap dalam peringkat iman ini.

2. Iman Ikut-Ikutan
• Iman yang berdasarkan pada tanda-tanda kelihatan.
• Seseorang itu menjadi benar-benar percaya kerana dia telah melihat keajaiban kuasa Tuhan seperti kesembuhan atau mukjizat.
• Jika perkara seperti ini tidak lagi berlaku, maka imannya pun menjadi layu.
• Iman seperti ini belum begitu mendalam, ia masih lagi berdasarkan perasaan (ruj. Yoh 20:29).

3. Iman Berdasarkan pada Komuniti
• Ramai orang Kristian yang imannya sangat bergantung pada komuniti Kristian di mana dia tinggal. Tanpa komunitinya dia tidak dapat berbuat apa-apa.
• Komitmennya terhadap Allah adalah melalui komuniti sahaja dan bukannya secara personal.
• Ini selalu berlaku apabila seseorang yang sangat aktif di dalam pelayanan bagi Gereja kerana dia adalah ahli komuniti yang aktif. Tetapi apabila dia dipinda atau berpinda ke suatu tempat di mana dia jauh terpisah dari komunitinya maka dia juga akan menjauhkan diri dari pelayanan atau dari Gereja.
• Iman seperti ini tidak personal dan mendalam hanya pada kulit saja.

4. Iman yang Mendalam dan Personal
• Seseorang yang hidupnya berpusat pada Kristus dan dia mempunyai hubungan yang intim dan personal dengan Yesus.
• Dia mengutamakan Allah dalam segala hal dalam hidupnya. Tuhan adalah segala-galanya bagi dirinya dan tanpa Tuhan dia tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh 15:5).
• Semuanya ini diungkapkan-nya melalui kesetiaan berdoa, menghayati Sabda Allah, merayakan sakramen-sakramen dan mengamalkan cinta kasih di dalam pelayanan pada Allah, Gereja dan sesamanya. 

5. Iman Para Murid
• Komitmen yang total kepada Tuhan dalam segi doa dan pelayanan.
• Menyerahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan dan turut serta dalam pelayanan dan misi Kristus serta meneladani jejak langkah Tuhan (Mk 8:34-35).
• Sikap sebagai murid adalah selalu belajar dari Tuhan.
• Mengamalkan sikap bersatu dengan Kristus, melayani bersama Kristus dan melayani seperti Kristus.


 
6. Iman Para Rasul

Guru keimanan dan penginjil.
Seluruh kehidupan mereka adalah mewartakan khabar gembira atau Injil, memperkenalkan Allah kepada orang yang belum mengenali-Nya dan membawah orang lain mendekati Tuhan.
Menjadi Kristus untuk orang lain.

7. Iman Para Matir
Para matir adalah saksi iman, mereka mati demi mempertahankan dan memperjuangkan iman Kristian.
Iman yang menjiwai seluruh kehidupan mereka. Di mana mereka bersedia untuk menerima apa sahaja bentuk penganiayaan, penderitaan dan rela mati untuk Kristus dan sesama.

Penutup
• Iman memberi kita kuasa untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Tuhan Yesus sendiri telah memberi kita keyakinan akan kekuasaan iman itu (ruj. Yoh 14:12-14).
• Tetapi persoalannya, apakah kita sungguh-sungguh percaya dan yakin akan jaminan Tuhan Yesus ini?
• Kadangkala apabila kita dicabar mengenai iman kita, kita malu menerima cabaran itu.
• Apabila kita berdoa kita kurang yakin bahawa Allah akan mendengar doa kita itu lalu kita tidak membuat apa-apa terhadap apa yang kita doakan itu.

Iman itu merupakan proses yang lama. Ia adalah suatu perjalanan yang jauh sehinggalah kita bertemu dan bersemuka dengan Allah.

Perjalanan iman adalah seperti pelayaran di lautan yang luas menuju ke destinasi yang paling indah sekali yang tidak ada bandingnya.  Tetapi untuk sampai ke sana kita perlu bergelut menghadapi pukulan ombak dan badai. Kita tahu ombak dan badai tidak berkekalan, ia datang dan pergi.
Begitu juga dalam perjalanan iman kita di dunia ini, kita harus berani menghadapi segala cabaran dan dugaan dalam iman dengan penuh keyakinan sebab Tuhan sentiasa menyertai kita (Mat 28:20b; Rom 8:31-39 ).
Selengkapnya...

Renungan 4 Februari 2014



Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:21-43)

Sekali peristiwa, setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau. Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kaki-Nya. Dengan sangat ia memohon kepada-Nya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya, dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai habislah semua yang ada padanya; namun sama sekali tidak ada faedahnya, malah sebaliknya: keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus. Maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Sungguh, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa badannya sudah sembuh dari penyakit itu. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya. Maka Ia berpaling di tengah orang banyak itu dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat sendiri bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu! Bagaimana mungkin Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Yesus memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Maka perempuan tadi menjadi takut dan gemetar sejak ia mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya. Maka ia tampil dan tersungkur di depan Yesus. Dengan tulus ia memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus. Maka kata Yesus kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menagis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, katanya, “Talita kum,” yang berarti: Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan sorang pun mengetahui hal itu. Lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Dua mukjizat terjadi. Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan dan membangkitkan puteri Yairus dari kematian. Yesus menunjukkan bagaimana Dia menjawab kepada mereka yang datang kepada-Nya dengan penuh iman. Terpenuhilah kata-kata Yesus, “Mintalah dan kamu akan mendapat.” Apakah dalam suka duka kehidupan, kita biasa datang kepada Yesus dengan penuh iman?
Selengkapnya...

LOVE TEST

LOVE TEST





Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, atau baru saja memulai hubungan: Apakah hubunganmu didasari jatuh cinta, atau... cinta sejati?
Ikuti testnya di sini: http://chastity.com/node/113

Di akhir test pada link tersebut, akan ada skor dan mungkin hal yang menerjemahkan beberapa pilihanmu.

Bagi yang kesulitan dengan bahasa Inggris, ini terjemahan pertanyaannya:

1. Apakah engkau sungguh mempercayai pasanganmu?
2. Apakah hubunganmu bebas dari rasa cemburu dan isu mengendalikan pasangan?
3. Apakah hubunganmu dibangun di atas kepercayaan, yang berarti tidak ada seorang pun dari kalian yang main mata?
4. Apakah engkau mengagumi pasanganmu tanpa merasa butuh memperbaiki dirinya?
5. Apakah engkau menikmati waktu melakukan aktivitas bersama, atau waktumu hanya dihabiskan seputar keintiman secara fisik?

6. Apakah hubunganmu damai dan bebas dari cekcok rutin?
7. Ketika engkau tidak setuju akan sesuatu, dapatkah engkau menyampaikannya tanpa mencaci maki atau menghina?
8. Apakah engkau bisa mendengar dengan sabar hingga mengerti pandangan yang lain?
9. Bisakah engkau berbicara padanya tentang segala hal?

10. Apakah keluargamu menerimanya, dan jika mereka mengetahui segalanya tentang hubunganmu, apakah mereka masih akan menerimanya?
11. Apakah engkau terbuka dan jujur kepada keluargamu tanpa kebutuhan untuk menutupi sesuatu dari orang tuamu?
12. Apakah teman-temanmu berpikir hubunganmu baik?

13. Dapatkah engkau melihat dirimu menikahinya tanpa mengharapkannya untuk berubah?
14. Apakah engkau mengambil waktu untuk memikirkan perkawinan, ketimbang tergesa-gesa mengikatkan diri pada akhir kuliah?
15. Apakah dia akan menjadi orang tua yang baik?
16. Apakah engkau ingin anakmu tumbuh menjadi seperti dia?

17. Apakah moralmu tetap teguh dan tanpa kompromi sepanjang hubungan ini?
18. Apakah hubunganmu bebas dari tekanan seksual dan manipulasi?
19. Apakah kalian berdua menjauhi alkohol dan obat-obatan terlarang?
20. Apakah kalian berdua terbebas dari kebiasaan melihat pornografi?
21. Terlepas dari masa lalu, apakah kalian berdua menunggu hubungan seksual hingga pernikahan nanti?
22. Dapatkah kalian mengatakan hubungan kalian murni?

23. Apakah kalian memiliki iman yang sama dan pergi ke Gereja bersama?
24. Apakah hubunganmu mendekatkanmu kepada Tuhan?
25. Apakah engkau mendoakan satu sama lain?

***

CINTA, di antara hal-hal lainnya, berarti tidak meminta seseorang untuk melakukan dosa berat.

LOVE, among other things, means never asking someone to commit a mortal sin.
— Emily Stimpson
Selengkapnya...